so Naive = me… ??!!!! Dan saya takkan pernah berhenti Belajar..

Sebutlah saya naif, terima kasih…  karena saya memang naif. Sampai umur saya sekarang , saya masih tidak percaya ada orang jahat di kehidupan nyata dan saya percaya bahwa orang-orang disekiling saya adalah orang-orang baik karena saya memperlakukan mereka dengan sangat baik pula.

Makanya, agak sedikit shock saat saya mengetahui bahwa sosok harapan tersebut sangat diluar gambaran dan bayangan saya sebelumnya.

Naif itulah pikir saya, atau saya orang yang agak sulit menerima keadaan saat keadaannya nyata tak sesuai dengan bayangan atau harapan saya, atau perubahan sifat yang tidak saya siapkan sebelumnya. Bagai Jetlag menurut saya, seperti ada tusukkan jarum yang menancap tajam ke dada rasanya saat mengetahui sesuatu yang diluar dugaan,diluar harapan terjadi..agak lama rasa menetralisir kekecewaaan saya dan efek buruknya sikap kecewa ini berdampak ke orang-orang sekitar saya…

Seseorang temen sekolah saya pernah berkata: “Naif itu bodoh sama polos jadi satu”

hahha..Ironis bangetkan nge-dengernya sifat saya yang satu ini.. tapi bener juga sih klo dipikir-pikir statement tersebut..

Kadang ketika seorang teman yang kita percaya tiba-tiba berkhianat, kita lupa memaknai bahwa sifat seseorang tidak selalu baik, sama halnya dengan diri kita, penuh salah dan khilaf. Dan mungkin hal itu yang membuat kita kecewa, karena dengan kenaifan kita terlalu berharap yang muluk-muluk dalam hidup, tanpa memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Sejatinya, dunia umumnya hanya berisi kefanaan belaka.

Naif sendiri menurut yang saya tahu dan beberapa pengertian dari beberapa sumber dari mba Google..

Naif is… adalah orang yang polos, agak kekanak-kanakan, dan memandang hidup selalu lurus tanpa kelokan, dan setiap proses hidup selalu bahagia, tanpa derita, atau bermuram durja.. (hayyah..haha..).

Dalam KBBI (Kams Besar Bahasa Indonesia),  Naif ternyata memiliki dua arti. a 1) sangat bersahaja; tidak banyak tingkah; lugu (karena muda dan kurang pengalaman); sederhana. 2) celaka; bodoh; tidak masuk akal.

Ada beberapa sisi naif yang bisa dipandang baik. Sisi untuk berfikiran positif dan sisi untuk berkhusnudzon (bersangka baik) dengan apapun. Tapi disisi lain, belajar untuk tidak berebih-lebihan dan memahami bahwa kehidupan itu berisi banyak paketan-paketan yang kadang mengejutkan, bisa memberi makna bagaimana kita bisa lebih mengerti arti kekecewaan. Dan “belajar Memahami, sebelum memarahi”.

so, sebenernya ga terlalu buruk juga memiliki sifat naif ini menurut saya, hanya akan sangat jadi musibah dan berdampak  masalah besar dan tidak sederhana terutama bagi intern diri saya sendiri karena tidak bisa menerima kenyataan dan melihat keadaan yang terjadi  tidak sebaik harapan.

Berbaik sangka boleh, berusaha selalu menjadi baik pun tak salah, tapi selamanya memilih posisi putih juga kurang menarik. Yaaa putih itu maksudnya kalau kita hilang sifat manusiawinya, maunya hidup selalu mulus sempurna pokoknya baik. Tapi jika memandang dunia ini dalam lingkup kepolosan,  keluguan dan melihat sesuatu dari sudut pandang postif rasanya kadang-kadang tidak cocok juga.

Saya Harus belajar realistis. Harus belajar menerima keadaan dan kenyataan.

Bahwa kehidupan ini adalah kenyataan. Saya tidak dapat menghindar ataupun merekayasanya sedemikian rupa hingga sesuai dengan keinginan saya. Artinya, jika saya Menolak kenyataan sama artinya dengan menolak hidup-karena betapa hidup itu nyata adanya.

Tuhan memberikan yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan. Tuhan mempertemukan orang yang kita sayangi dan menyayangi kita, yang kita cintai dan mencintai kita, yang kita benci dan membenci kita, yang membahagiakan kita, yang mengecewakan kita, yang membuat kita sedih dan terluka. Semata-mata untuk melengkapkan kita. Bahwa kehidupan tidak akan selalu manis. Bahwa kita juga sesekali harus mencicipi pahit dan sepah kehidupan.

Tuhan tahu yang terbaik untuk hambanya…

Kita hanya perlu memilih dan Belajar menerima kenyataan dan mengikhlaskan akan apa yang kita pilih adalah solusi terbaik… 

Belajar menerima perbedaan dengan segala  perubahannya..belajar dari pelangi dengan beragam warnanya menghasilkan paduan yang indah bukan..

Belajar beradaptasi tanpa henti, karena kehidupan, pernikahan ataupun persahabatan adalah proses adaptasi seumur hidup saya..

Belajar untuk tidak mengeluh dan menuntut , berusaha menerima segala bentuk kekurangan, segala bentuk hasil/resiko yang tidak sesuai harapan kita …

Belajar bahwa dunia tidak hanya terdiri dari warna putih saja, tetapi ada sisi hitam juga didalamnya..

dan yang pasti belajar sedikit demi sedikit melepas presikat NAIF itu dari diri saya agar efek jetlag terhadap kekecewaan itu tidak terlalu tertancap dalam …

dan belajar Bahwa segala sesuatu adalah karena KehendakNya…

Bahwa kenyataan ini adalah skenario yang dipilihkan Tuhan untuk kita untuk menjadikan kita kuat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s